Istilah yang saya benci sampai sekarang itu masih menyisakan tanya saya pada para penguasa kampus yang menurut hemat saya telah menerapkan kebijakan ruwet, mbulet dan merugikan.
Disebut ujian ulang karena begini ceritanya:
Setiap semester kampus saya melaksanakan 2x ujian besar berupa mid dan uas. Ketika uas telah selesai dilaksanakan, maka akan dipampang pengumuman hasil ujian. Nah, anehnya..Pada umumnya kampus akan mencantumkan nilai dan nama si empunya nilai.Kemudian ditulis batas lulusnya.Wajarnya memang begitu bukan??
Lain halnya dengan kampus tempat saya berjuang menjadi seorang dokter. Setelah uas selesai, pengumuman yang dipajang hanyalah rentetan nama-nama beserta nomor induk mahasiswa. Itu artinya nama-nama yang tercantum berhak mengikuti ujian ulang dikarenakan nilai uas tak mencukupi nilai lulus. Anehnya adalah hanya nama dan NIM saja yang dicantumkan tanpa menuliskan nilai yang sebenarnya kami dapat. Jadi kami gak pernah tau seberapa jauh kemampuan kami.
Menurut saya ini tidak fair. Tidak transparan. Bahkan,seringkali terjadi kesalahan nama. Maksudnya bahwa seharusnya lulus,tapi namanya tercantum dalam pengumuman ujian ulang padahal ketika KRUU (Kartu Rencana Ujian Ulang) keluar gak ada mata kuliah yang tertera dalam pengumuman itu tercantum dalam KRUU.
Lalu kebijakan berikutnya adalah mahasiswa yang mengikuti ujian ulang, berapapun nilainya maka hasil akhirnya tidak dapat diganggu gugat tetap akan 2,0. Itu berarti jika ujian ulang bernilai 3,0 atau 2,75 maka nilai akhir yang tercantum di KHS tetap akan 2,0.
Saya masih tidak tau menau alasan mengapa transparansi nilai d kampus saya sangat sulit. Hanya ada beberapa matakuliah/lab yang selalu memampang setiap penilaian yg telah jadi kesepakatan mata kuliah/lab tersebut. Itupun jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Bahkan, DEKAN yang berjanji ketika pemilihan DEKAN telah mengatakan bahwa akan menindaklanjuti proses transparansi nilai tersebut, sampai saat ini tidak ada hasilnya.
Pertanyaan terbesar saya adalah "seberapa besar kepentingan mereka hingga mengorbankan para pencari ilmu terpaksa tak berdaya mengikuti aturan kebijakan yang tidak adil itu??"
Sistem yang berbelit dan merugikan. Birokrasi politik kampus yang merugikan.
Lalu saja jadi berpikir, saya belajar memang untuk mencari ilmu bukan nilai. Notabene nilai adalah ukuran prestasi yang sering dijadikan syarat dimana-mana.
Saya pernah geram ketika pihak kampus yang diwakilkan oleh salah seorang dosen mengatakan hal seperti tadi. "Bahwa kalian belajar mencari ilmu,bukan nilai"
Jujur, saya memang tidak menyukai sistem uas yang berlaku d kampus saya yang masih menerapkan sistem belajar konvensional di angkatan saya. Uas dengan 100 soal pilihan ganda (seperti model soal spmb itu lhoh) dengan waktu 100 menit. Jika ada yang hanya memberikan 60 soal itupun sama saja hanya berdurasi 1menit tiap 1soal. Mengapa saya tidak menyukai? Karena cara seperti itu tidak memberikan keleluasaan bagi saya untuk berimprovisasi mengurutkan kerangka pikir saya dari literatur yg saya pelajari. Itu artinya saya harus mempelajari semua bahan kuliah, lalu menghafal semuanya, lalu lupa setelahnya.
Dan 100soal itu artinya jika salah 1point pilihan saja kita lupa benar atau tidak maka kemungkinannya hanya dua. Nomor yang kita jawab hasilnya salah atau malah benar. Berbeda dengan essay yang bisa memberikan kenyamanan kita untuk menuangkan kerangka pikir kita untuk menjawab. Tapi kelemahannya adalah tergantung pengkoreksi. Bisa jadi berlaku subyektivitas dalam penilaian.
Tapi sekali lagi bahwa ujian essay sangat menyusahkan dosen. Untuk mengajar saja mereka harus dikejar-kejar jadwal pasien dll. Apalagi untuk koreksi yang demikian itu.
Eniwei, semua memang ada lebih dan kurangnya. Kepada kampus saya tercinta, "kapan kita akan maju tanpa pembenahan diri? Semua yang diterapkan pada kami secara langsung menjadi pembelajaran bagi cara berpikir kami, cara bersikap kami dan cara belajar kami"
Bukan maksud kami tak ingin bersusah payah berjuang,tapi berikan keadilan yang mendidik jiwa kami sebagai dokter yang berkarakter baik.
Cukup sekian.
Terimakasih
Saturday, June 21, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment